Miskin Vs Kerja Keras
08 Januari 2012
Konstitusi kita mengatakan, warga miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara. Namun, percaya atau tidak, berdasarkan data tahun 2010, pemerintah hanya mengelola 190 panti sosial dan 6000 panti sosial lainnya merupakan milik pribadi/masyarakat. Sementara anggaran yang dicanangkan Kementerian Sosial untuk mengatasi masalah kemiskinan ini pada tahun 2010 hanya sebesar Rp. 3.627.706.319.000
Sekilas memang terlihat nominal yang banyak. Tetapi angka ini tidak cukup bila dibandingkan dengan jumlah penduduk miskin di tanah air yang jumlahnya mencapai 32,53 juta jiwa. Pemerintah memang mengklaim angka kemiskinan ini menurun sebesar 14,15%.
Dalam angka-angka statistik persentase penurunan angka kemiskinan itu memang fantastis. Namun marilah kita melihat dan sekaligus menggunakan perasaan kita untuk melihat lingkungan sekitar. Masih begitu banyak orang-orang yang secara ekonomi kehidupan mereka pas-pasan. Bahkan menurut data, di ibukota saja ada 5,4 juta anak jalanan yang hidup tanpa kepastian.
Fakta, di antara kita memang masih banyak warga negara Republik Indonesia yang hidup miskin. Bisa jadi angka kemiskinan itu jauh lebih besar lagi kalau kita menggunakan ukuran kemiskinan relatif. Angka kemiskinan yang katanya menurun itu adalah angka statistik yang didapatkan oleh Badan Pusat Statistik berdasarkan ukuran-ukuran atau indikator kemiskinan absolut.
Sekarang marilah kita melihat indikator kemiskinan absolut itu sendiri. Garis kemiskinan absolut hanya mendefinisikan mampu tidaknya sesorang memenuhi kebutuhan mendasar. Ukuran-ukuran lain seperti tidak adanya kesempatan, rendahnya kapabilitas, ketidakamanan, dan ketidakberdayaan, bukanlah indikator kemiskinan absolut ini.
Karena itu, dapat dipastikan jika ukuran kemiskinan diperluas mencakup dimensi-dimensi tersebut atau bisa disebut mengukur kemiskinan dengan garis kemiskinan relatif, angka kemiskinan di Indonesia akan melonjak dan menimbulkan masalah, seperti berkurangnya investasi yang masuk ke Indonesia atau hancurnya rezim yang berkuasa.
Namun kalau kita ingin maju dan lebih sejahtera, sudah saatnya kita mengubah ukuran kemiskinan di negeri ini. Jika kemiskinan hanya diukur dengan acuan-acuan seperti berapa jatah makan seseorang dalam sehari, tanpa mempertimbangkan kesejahterahan dan kesempatan-kesempatan bisa atau tidaknya dia memperoleh kehidupan yang lebih baik, maka negara ini tidak akan pernah maju.
Memang bukan hal mudah untung menuntaskan masalah sekompleks kemiskinan. Dengan menggunakan garis kemiskinan absolut saja kemiskinan masih sangat sulit dikurangi, apalagi dengan menggunakan garis kemiskinan relatif. Tetapi jika dikaji lebih lanjut, penggunaan garis kemiskinan relatif sebagai indikator dan menuntaskan kemiskinan dengan mengacu pada kriteria garis kemiskinan relatif, hasilnya pasti lebih dapat bertahan lama ketimbang hanya menggunakan garis kemiskinan absolut yang diukur dengan kenyang tidak nya seseorang pada hari itu.
Selain salahnya indikator kemiskinan yang digunakan pemerintah sebagai acuan, saya rasa ada satu hal lain selain indikator kemiskinan yang harus dibenahi, yakni persepsi kita terhadap kemiskinan itu sendiri. Ada mitos yang berkembang sejak zaman Belanda hingga sekarang bahwa orang-orang Indonesia, terutama pribumi, itu malas dan tidak mau bekerja keras. Kemalasan inilah yang membuat mereka miskin. Mitos pribumi malas itu tentu menjadi pertanyaan yang menarik.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, malas berarti tidak mau melakukan sesuatu, suka berpangku tangan, dan sederet pengertian lainnya. Untuk membuktikan mitos ini benar atau salah, cobalah untuk melirik “orang miskin” yang ada di sekitar kita.
Contoh nyata kemiskinan dapat kita temukan di kawasan kumuh di Jln. Nusa Jaya RT 04 RW 08 Pondok Ranji, Tangerang Selatan. Menurut survey yang kami lakukan, sebanyak 53% warga pinggiran Pondok Ranji tersebut berprofesi sebagai pembantu rumah tangga, sebanyak 20% warga berprofesi menjadi pengamen, dan sebanyak 12% sisanya berprofesi lainnya seperti pemulung, joki 3 in 1, dll. Dengan pekerjaan-pekerjaan itu, rata-rata hampir semua dari mereka mampu memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari, tetapi tidak mampu mengenyam pendidikan formal yang hanya menciptakan kebutuhan baru.
Dari contoh di atas, coba pikirkan, jika kita menggunakan garis kemiskinan absolut sebagai tolak ukur kemiskinan seseorang di negeri ini, berarti orang-orang di Jln. Nusa Jaya RT 04 RW 08 Pondok Ranji, Tangerang Selatan, bukanlah termasuk warga miskin yang butuh pertolongan. Tetapi di sisi lain, hidup dengan hanya perut kenyang tidaklah cukup untuk menghadapi persaingan di era globalisasi seperti sekarang. Lama-kelamaan profesi mereka tidak akan mampu menyelamatkan mereka.
Memang bukan pekerjaan mudah untuk mengurangi jumlah kemiskinan di negeri ini. Bicara memang mudah, tapi apakah sama mudahnya dengan bertindak? Adalah suatu hal yang tidak mungkin jika kita membebankan hal sebesar ini kepada pemerintah yang tentunya tidak hanya punya satu agenda untuk diurus. Butuh lebih banyak lagi tangan-tangan dan pikiran-pikiran yang mau peduli terhadap masalah kemiskinan di negeri ini.
Hal ini merupakan kesempatan bagi kaum pelajar sebagai kaum intelektual untuk saling bertukar pikiran dan bahu-membahu, untuk kemudian menjadi satu dari banyak solusi atas permasalahan yang terjadi negeri ini, diantaranya adalah kebodohan sebagai dampak kemiskinan. Kaum pelajar yang juga berperan sebagai anggota masyarakat sudah semestinya turut aktif dalam usaha kemandirian dan kesejahterahan masyarakat sekitar. Mengingat banyaknya jumlah pelajar (terutama umur 15-18 tahun), sungguh sangat disayangkan jika pemberdayaan pelajar tidak dilakukan. Bukan berarti karena kami muda, lalu kami tidak dapat bermanfaat bagi lingkungan sekitar. Ada banyak kesempatan yang dapat diambil pelajar untuk membantu pemerintah dalam menanggulangi masalah kemiskinan negeri ini.
Bukanlah
hal besar yang dapat kami berikan, mungkin hanya bermodal dengkul sebab setiap remaja pun bisa
melakukan hal ini. Sebagai pelajar, kami menyampaikan rasa keperihatinan dan
kepedulian terhadap masalah kemiskinan negeri ini melalui jalan kontribusi yang
kami sebut sebagai kontribusi kecil-kecilan.
Kontribusi ini dilakukan dengan memberikan 3 jam waktu akhir pekan kami untuk
berbagi pengetahuan dengan warga kampung di daerah Pondok Ranji Jln. Nusa Jaya RT 04/08. Untuk
anak-anak usia 4 – 8 tahun, kami
memberikan ilmu-ilmu dasar seperti ilmu calistung
(baca tulis hitung) yang kami kemas semenarik mungkin agar anak-anak tidak
cepat bosan. Sedangkan, untuk anak-anak usia 10 – 15 tahun, kami memberikan
keterampilan yang dapat mereka gunakan untuk bertahan hidup dan menafkahi diri
mereka sendiri, seperti ilmu menjahit,merajut, dll. Dalam beberapa waktu
kedepan, kami pun merencanakan untuk membuat pelatihan untuk ibu-ibu di
lingkungan tersebut. Kalau kami yang
seperti ini saja bisa, bagaimana dengan Anda?
MAN 4 JAKARTA SELATAN
Tanggal posting: 08/01/2012 12:03:00 oleh admin

