Indonesia | English
 
Indonesian Student and Youth Forum

 Artikel

Artikel

Pustaka Kecil untuk Negeri
Kesuksesan harus lebih dulu saya dapatkan dengan hasil yang sangat bagus dan mata dunia harus menuju kepada saya atas prestasi saya.
Kreatif itu Unik, Kreatif itu Berbeda
Miskin Vs Kerja Keras
SEHAT KUNCI SEGALANYA

Arsip Press Release

Satu Pelajar Satu Pohon

10 Januari 2012

Saat ini bumi kita tengah menghadapi ancaman pemanasan global atau global warming yang sangat serius, yang dibuktikan dengan terjadinya perubahan iklim yang ekstrim dan banyaknya peristiwa bencana alam yang terjadi. Fakta tersebut setidaknya telah  menyadarkan banyak kalanga tentang pentingnya  menekan angka pencemaran lingkungan dan menata serta  mengelola alam secara lebih bertanggung jawab. Salah satu upaya strategis  untuk memperbaiki kulitas lingkungan  dan menekan pengaruh pemanasan global tersebut adalah dengan memperbaki kondisi hutan yang kita miliki, terutama dengan mempertahankan dan menambah luasannya. Upaya inilah yang saat ini tengah digalakkan Kementerian Lingkungan Hidup; yaitu Mewujudkan Indonesia Hijau (MIH).

Namun pada saat yang bersamaan jumlah penduduk Indonesia terus bertambah dan dengan sendirinya konsumsi energi dan pangan juga bertambah, sehingga agak sulit untuk mempertahankan apalagi memperluas areal hutan yang ada.  Yang terjadi justu sebaliknya ; luas hutan semakin menyusut karena kegiatan penebangan, industri pertambangan, pertanian dan perkebunan. Ratusan ribu hektare hutan setiap tahunnya digunduli dan menjadi tanah tandus. Data yang dirilis Deputi Bidang Peningkatan Konservasi SDA dan Pengendalian Kerusakan Lingkungan Kantor Kementerian Lingkungan Hidup pada tahun 2008 memperlihatkan luasan hutan di Kalimantan kini hanya tinggal 39%. Kondisi yang sama juga terjadi di Sumatra dan Sulawisi. Di Pulau Jawa, kondisinya bahkan jauh lebih parah lagi. Hanya Irian dan Kepulaua Maluku yang agak lebih baik.

 Menjadi pertanyaan penting bagi kita para pelajar ; apa yang bisa kita lakukan untuk turut menghijaukan kembali bumi kita yang indah ini, khususnya kota-kotanya ? Hal ini penting kita sikapi karena berdasarkan hasil beberapa riset lingkungan diketahui adanya perbedaan yang signifikan antara kualitas lingkungan (udara, tanah dan air) di perkotaan di Indoneisa dibandingkan di perdesaan. Padahal jumlah penduduk yang mendiami perkotaan jauh lebih banyak daripada yang menghuni perdesaan. Artinya, banyak orang Indonesia, khususnya yang bermukim diperkotaan terutama di kota-kota besar, hidup dengan kualitas lingkungan yang buruk.

Pemanasan Global

            Pencitraan satelit yang dilakukan Badan Meteorologi dan Giofisika pada tahun 2010 memperlihatkan betapa bumi Indonesia kini tak hijau lagi, setidaknya dikawasan-kawasan perkotaannya. Pulau Kalimantan, Sumatra dan Irian yang dulu dikenal dengan hutan tropisnya yang lebat dan penuh dengan keanekaragaman hayati, kini banyak yang gundul dan menjadi lahan kritis. Lobang-lobang menganga bekas kegiatan pertambangan yang ditinggalkan begitu saja. Di sebagian wilayah lainnya terlihat asap membubung karena kebakaran hutan yang sengaja dan tidak disengaja. Juga semakin banyaknya padang ilalang setelah hutannya dibabat secara serampangan. Kondisi ini diperparah dengan semakin banyaknya gas buangan akibat semakin bertambanya jumlah kendaraan, asap pabrik, penggunaan AC, penggunaan pupuk kimia dan pestisida serta sampah plastik dan logam berat lainnya. Akibatnya, bumi kita kini tengah berjuang menghadapi pemanasan global yang diprediksi akan berakibat pada meningkatnya suhu bumi, mencairnya lapisan es di kutub, bertambahnya volume air laut, tenggelamnya ribuan pulau dan musnahnya ribuan spesies karena tidak mampu beradaftasi dengan perubahan iklim yang ekstrim.

Menuju Indonesia Hijau

            Menyadari buruknya dampak pemanasan global, pemerintah dan semua kalangan harus ikut ambil bagian dan secara bersama-sama menyelamatkan bumi kita. Salah satunya adalah menyukseskan program mewujudkan Indonesia hijau yang dicanangkan oleh Kementerian Lingkungan Hidup. Pemerintah diharapkan terus melakukan reboisasi hutan, menetapkan kawasan hutan tertentu sebagai hutan lindung, memberikan penyuluhan kepada masyarakat dan penegakan hukum agar masyarakat menghentikan kebiasaan membuka ladang dengan cara membakar hutan dan berpindah-pindah, memperbanyak hutan mangrove di sepanjang pesisir pantai, melakukan reklamasi  di areal bekas tambang, membuat hutan kota, mengurangi pemakaian  pupuk kimia dan  menggantinya dengan pupuk organik, mengurangi pemakaian pestisida, menghukum perusahaan atau industri yang membuang limbah dan tidak melakukan pengolahan limbah secara benar. Dalam hal ini, peran pemerintah selain sebagai inisiator, motivator dan regulator, juga sebagai wasit yang menghakimi dan memberi sanksi agar semua program dapat berjalan.   

            Masyarakat khususnya para pelajar,  juga dapat berperan aktif dengan cara ;

  1. Membudayakan gemar menanam pohon dan menggunakan tanaman hidup sebagai pagar rumah. Tidak membiarkan lahan yang dimiliki (termasuk pekarangan) kosong, tetapi menanaminya dengan tanaman yang produktif.
  2. Menghiasi rumah dengan tanaman asli.
  3. Menghijaukan jalan-jalan dengan tanaman keras.
  4. Tidak membakar sampah.
  5. Tidak membuka lahan pertanian/ perkebunan dengan membakar dan berpindah-pindah.
  6. Merawat mesin kendaraan secara berkala agar emisi gas buang kendaraan baik. Bagi industri, selalu memantau emisi gas buang limbahnya.
  7. Mengurangi jumlah mobil yang lalu-lalang. Misalnya dengan berjalan kaki, bersepeda, naik kendaraan umum, atau naik satu kendaraan pribadi bersama dengan teman-teman (car pooling).
  8. Selalu merawat mobil dengan seksama agar tidak boros bahan bakar dan asapnya tidak mengotori udara.
  9. Meminimalkan pemakaian AC  dan  memilih AC non-CFC yang  hemat energi.
  10. Mematuhi batas kecepatan berkendaraan dan jangan membawa beban terlalu berat di mobil agar pemakaian bensin lebih efektif dan efesien.
  11. Meminimalkan penggunaan bahan kimia dalam kegiatan sehari-hari.
  12. Membeli bensin yang bebas timbal (unleaded fuel)
  13. Memilih produk yang ramah lingkungan, misalnya parfum non-CFC.
  14. Memakai plastik berulang kali, karena sampah plastik sulit diurai dan kalau dibakar menimbulkan zat beracun.
  15. Tidak merokok.
  16. Memilah antara sampah basah, sampah kering  dan sampah beracun dan menyediakan tempat untuk ketiganya.
  17. Memfotokopi secara bolak-balik atau memakai kertas yang sisinya masih kosong, karena menghemat kertas berarti mengurangi penggundulan hutan.
  18. Menggunakan lampu dengan kapasitas  wat yang tepat.
  19. Bila menggunakan kamar kecil, tidak lupa mematikan kran setelah selesai.
  20. Kalau toilet menggunakan pengharum ruangan, pilih yang tidak mengandung aerosol.
  21. Tidak membuang sampah sembarangan, terutama di sungai, selokan dan laut.
  22. Menggunakan lebih banyak barang-barang yang terbuat dari kayu, kertas, kaca/keramik, bukan plastik atau styrofoam.
  23. Sebisa mungkin menghindari menggunakan barang/produk dengan kemasan kecil (sachet) karena akan menambah jumlah sampah.
  24. Membiasakan menggosok gigi dengan menggunakan gelas, bukan menyalakan kran terus-menerus agar air tidak terbuang sia-sia.
  25. Sebisa mungkin menggunakan lap atau sapu tangan untuk menggantikan tisu yang terbuat dari kertas.

Satu Siswa Satu Pohon

Selain beberapa tawaran yang bersifat merubah dan membiasakan pola hidup yang lebih berorientasi kepada terwujudnya Indonesia Hijau sebagaimana disebutkan di atas, penulis menawarkan pemikiran agar setiap siswa menanam dan merawat satu pohon selama  menempuh pendidikan di bangku SMA sederajat. Teknisnya ; dalam masa orientasi sekolah, setiap siswa baru menanam satu pohon yang ditentukan lokasinya oleh sekolah setelah berkoordinasi  dengan Pemerintah Kabupaten/Kota. Misalnya, Pemerintah Kabupaten/ Kota mempunyai target Jalan A sepanjang 5 kilometer dihijaukan dengan pohon mahoni dan trambesi. Bibit sudah disiapkan oleh Pemerintah Kabupaten/ Kota dan siswa tinggal menanam serta merawatnya saja.

Setelah pohon ditanam, diberi label  nama siswa yang menanamnya. Siswa tersebut berkewajiban merawat selama dia  menempuh pendidikannya. Apabila pohon tersebut  mati atau hilang, maka siswa itu menanamnya kembali. Tugas itu merupakan kewajiban pribadi dan tidak bisa digantikan dengan tugas lain atau dengan denda bayaran berapapun. Dengan masa pemeliharaan selama tiga tahun, pohon seperti mahoni atau trambesi—misalnya-- sudah cukup besar dan aman dalam masa pertumbuhan selanjutnya. Tugas pengawasan diberikan kepada para wali kelas bekerja sama dengan dinas terkait dan bila keuangan daerah memungkinkan,  para wali kelas sebagai pembina  diberikan honorarium.

Dengan cara seperti ini, jutaan pohon dapat ditanam setiap tahunnya, jalanan dan kota-kota akan menghijau, perkampungan dan permukiman akan terlihat asri dan teduh, area terbuka akan sejuk dan rindang. Pada gilirannya, secara perlahan namun pasti, Indonesia Hijau akan benar-benar terwujud.

Aulia Rahmah

MADRASAH ALIYAH NEGERI 2 MODEL

Tanggal posting: 10/01/2012 12:14:00 oleh admin


© 2011 - 2012 Indonesian Student and Youth Forum - all rights reserved
designed by focus website design